Artikel Peserta Lomba Media BilHikmah
Penyelenggara: MediaMuslim.Info dan MediaMuslim.Org
Sebagian orang berpendapat belajarlah dari keberhasilan seseorang sedangkan sebagian lagi berpendapat belajarlah dari kegagalan orang lain.
Yang kecil2, Kerambah Ikan.
Pernah mencoba usaha dari yang kecil2 sesuai kemampuan yang ada dimulai dari ikan mas dan gurame, di tempatkan di kerambah sungai yang air mengalir biar lebih cepat besar dengan mengambil bibit dari Cirawingin Sukabumi yang sudah berhasil membesarkan perikanan dan sekarang membuat bibit pula. Pembeli akan jemput bola jika panen nanti tapi sebelum panen tinggal beberapa saja yang ada, katanya tidak ada yang jagain tapi teman lain yang buat perjanjian sama penjaga mengalami hal yang sama… katanya ada yang ambil atau ada yang tidak jujur nih. Disamping itu pembeli juga tidak kunjung ada. Selang setahun bubarlah perkerambahan ikan.
Ternyata masih ada yang penasaran buat pembibitan di Sukabumi dengan perhitungan dan relasi yang lebih matang, danapun jauh lebih besar namun berakhir tidak jauh berbeda alias gagal.
Yang Gede, Bisnis Batu Bara.
Beberapa tahun kemudian datanglah seseorang yang konon mantan pengusaha batubara yang tadinya sudah sangat berhasil gagal karena moneter 1998 dolar melambung tinggi kurang perhitungan, dia kontrak dengan keluarganya di komplek rumah. Awalnya penghuni komplek memang akrab selama ini, sering berkumpul membicarakan kehidupan komplek dan sekitarnya serta di selingi acara makan2 di taman. Begitu juga si mantan pengusaha ini di undang… maka suatu hari muncul lah ide si mantan ini agar persatuan ini bisa berwirahusa berdasarkan relasi, kemampuan serta pengalamnya dengan iming akan berhasil. Dihitung2 dan dikaji maka dana terkumpul dari yang biasa ngumpul kecuali si mantan karena sudah bankrut maka Perusahan Terbatas (PT) langsung segera terbentuk. Kantor terbentuk dengan segala fasilitasnya, kontak dan terbang ke Kalimantan, Singapore dan Thailand sampai ikut tender ke Sinar Mas group pengadaan batu bara. Bulan ke bulan ternyata terjun di dunia bisnis spt itu penuh permainan dan resiko yang cukup besar dan si pengontrak pun menghilang. Akibat terburuk bukan hilangnya uang yang ada tapi hilangnya kepercayaan dan keakraban selama ini antar penghuni komplek bahkan ada rekan yang berkelanjutan mengalami rentetan akibat musibah ini.
Yang sedang2 dan sendiri saja.
Keluhan dari kanan kiri tidak bekerja membuat berfikir ulang agar bisa membuka lapangan pekerjaan ketimbang nepotisme ke perusahaan. Alhamdulillah rezeki dari Allah masih bisa menyisihkan dana dari penghasilan maka berfikir jenis usaha apa yang lebih aman dan tidak mengajak orang lain karena mengingat dampak usaha sebelumnya. Buat komitmen dengan si pelaksana harian ternyata bengkel motor pilihannya. Beberapa bulan mencari lokasi didapatlah kontrakan tidak jauh dari rumah dan pas di jalan raya yang boleh dikata 24 jam hilir mudik kendaraan2 dan sainganpun belum ada dengan perhitungan keuntungan service. Mengingat masih baru maka tidak ada target untuk si pelaksana harian memberikan keuntungan, dipersilahkan untuk di kelola dan pendapatan harian bisa dia gunakan sebagian untuk kehidupannya sebagian untuk membesarkan usaha. Bulan ke bulan hingga tahun ke 5 tidak ada peningkatan yang berarti walau modal terus di tambah, alasan pelaksana butuh spare part yang banyak agar pengunjung datang lebih, masalahnya mau berapa banyak ditambah lagi kemana saja keuangan service yang katanya tidak cukup menenutupi operasional, lebih rumit lagi mulai tumbuh bengkel2 baru dan bahkan pemodal besar bermain dengan franchise-nya. Bubarlah semuanya tanpa menyicip sedikitpun modal yang sudah di tanam. Analisa sementara untuk buka bengkel mesti sangat besar modal serta jaringan pendukungnya.
Dari pengalaman di atas menunjukan faktor ketidak jujuran, kurangnya usaha yang gigih ataupun lingkungan yang tidak kondusif untuk persaingan yang sehat bercampur membuat kegagalan ini.
Tapi alhamdulillah rezeki tidak kemana2, masa2 itu si punya kontrakan mengusulkan untuk di beli, boleh di cicil dan sekarang telah dapat di lunasi dengan hasil menyisihkan penghasilan lainnya. Bagaimanapun juga Allah telah menetapkan rezeki itu tidak hilang… masih ada. Bisa jadi kalau saya tidak buka bengkel, uang penghasilan tadi bisa jadi terhambur tidak menentu walau secara nominal nilai investasi merugi dan lebih lagi masih di beri kesehatan dan iman.
Silahkan siapa yang mau berwirausaha.. mau belajar dari yang gagal atau dari yang berhasil… yang penting tetap bersyukur dan bersabar apapun hasilnya…
DIarsipkan di bawah: Ekonomi
Saya jadi terkenang masa lalu saya waktu bisnis dulu, memang sih untuk permula spt saya kelihatannya lebih berhasil jika ktia menjalankannya sendiri dulu baru seumpama sudah mulai ga ‘kepegang’ baru mulai ‘rekrut’ orang lain…
tapi saya salut sama Mas yg berani melangkah, kata orang ‘tua’ begini : beda orang sukses dan tidak adalah pada berani ‘melangkah’ atau tidak dan Mas sudah melakukannya, permasalahan sekarang adalah dengan pernah gagal itu menjadikan pelaran untuk bisnis kedepannya…..
Thomas Alva Edison itu katanya sampai ribuan kali percobaan baru berhasil menciptakan hasil karyanya…
Semoga sukses dengan bisnis yang barunya..Mas, jangan menyerah dan putus Asa…..
Maju terus mas jangan sampai berhenti, saya juga mulai walau belum lepas jadi buruh.
kalau mikir gaji buruh alhamdulillah cukup tapi kalu mikir kebebasan berkreasi dan pikiran maunya wirausaha.
Wirausaha adalah ibadah ….berhasil atau lagi proses tetep pahala
wassallam
Daryana
maju trs kak
jangan nyerah