Imam Ibnu Katsir, di dalam tafsir beliau tentang [An-Nisaa` : 3] menyebutkan, nikahilah wanita yang kalian kehendaki selain dari mereka, jika kalian menghendaki dua orang, tiga orang atau empat orang [Tafsir Al-Qur’anul Azhim, Imam Ibnu Katsir (1/598)]
‘Abdullah bin ‘Abbas juga mengatakan: “Menikahlah! Sesungguhnya sebaik-baik umat ini adalah yang paling banyak isterinya”.[Imam Bukhari no. 5069]
Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. didatangi oleh seorang lelaki. Lelaki ini mengaku dirinya seorang yang miskin. Kemudian ia meminta jalan keluar agar terlepas dari belenggu kemiskinan. Rasulullah s.a.w tanpa banyak fikir lagi terus menyuruh lelaki itu menikah. Lelaki ini sangat senang dengan saranan yang diberikan Rasulullah. Dengan keyakinan yang mantap, akhirnya lelaki itu menikah. Setelah sekian lama menikah, lelaki itu datang lagi kepada Rasulullah dan mengadukan nasibnya, “Ya Rasulullah saya sudah menikah tetapi masih tetap miskin, bagaimana ya Rasulullah ?”. “Menikahlah lagi,” jawab Rasulullah singkat. Si lelaki tanpa banyak bertanya lagi. Beliau percayakan kepada Rasulullah. Sebab tidak mungkin Rasulullah mau menipu ummatnya. Akhirnya lelaki itu menikah lagi dengan gadis lain. Namun beberapa waktu kemudian lelaki itu datang lagi kepada Rasulullah dan mengadukan masalahnya : “Ya Rasulullah, isteri saya sudah dua tapi saya masih miskin, bagaimana ya Rasulullah…?” keluh lelaki itu.
“Menikahlah lagi,” jawab Rasulullah singkat. Hati lelaki itu merasa senang mendapatkan jawaban Rasulullah. Kemudian beliau menikah untuk ketiga kalinya. Namun setelah beberapa lama keadaan tetap juga belum berubah. Mulanya ia malu mengadu kepada Rasulullah, tapi apakan daya ia masih tetap miskin. Dengan berat hati beliau mendatangi Rasulullah dan menyampaikan masalahnya. “Ya Rasulullah, engkau telah menyuruhku menikah untuk ketiga kalinya, tapi aku tetap miskin. Sekarang apa yang harus kulakukan?”, adu lelaki itu. “Menikahlah lagi,” kata Rasulullah. Akhirnya si lelaki itu menikah buat kali keempat. Dan benarlah kata Rasulullah. Ternyata isteri keempatnya ini membawa berkah di dalam kehidupannya. Dengan kepandaiannya menenun, ia mengajar kemahiran tersebut kepada tiga madunya. Akhirnya usaha tersebut mendatangkan keuntungan dan kekayaan. Perusahaan industrinya maju dan mampu mencukupi keperluan rumah tangga lelaki itu serta isteri-isterinya.
Sabda Rasulullah bermaksud : “Carilah rezeki dengan menikah” (Riwayat Ibnu Abbas).
Jadi tidak heran jika umat islam masih dalam garis kemiskinan, terpecah belah dengan membiarkan saudara2nya terlantar dan saudari2nya berjuang hidup dengan kesendirian. Merasa sudah memiliki keluarga dengan pasangan harmonis anak-anak yang serba berkecukupan menjadi tolak ukur suksesnya hidup, apa cukup sampai di situ pesan nabi pada umatnya agar selamat dunia akhirat?
Apabila sekarang sudah berkecukupan lengkap dengan pasangan dan keturunan maka jika menolak periwayatan diatas berarti sesungguhnya anda masih miskin(miskin hati terutama miskin di mata Allah) .
“Bukanlah kekayaan itu kerana banyak harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan hatinya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Apabila sekarang anda masih miskin maka keterlaluan jika menolak periwayatan diatas.
DIarsipkan di bawah: Agama
terus terang saya bingung dengan artikel Mas ini, spt nya nga nyambung antara pendapat anda dengan yg di atasnya, diatas sekali dibicarakan mengenai miskin dalam arti miskin harta, sedangkan kerangan Mas tsb (dibawah) berputar pada miskin hati. kalo saya menggaris bawahi (maaf kalo salah) bisa dikategorikan kita ini kaya hati setelah kita menikah lagi alias berpolygami, menurut saya ini pendapat yg keliru.
kesimpulan saya tidak perlu di panjang lebar masalah ini, dan sah-sah aja bila ada yg akan berpolygami dengan alasan/sebab tertentu misal istri mandul, sakit atau memang dorongan seks suaminya sudah over sehingga di khawatirkan malah ‘merusak’.
dan memang sah-sah saja jika Mas berpendapat demikian juga begitupun hal nya dengan saya.
mohon maaf jika kurang berkenan.
Moderator:
Maaf jika membingungkan anda, sesungguhnya butuh ketelitian dalam memaknai setiap ungkapan.
Pada awal merupakan periwayatan yang esensinya butuh pengetahuan dalam keimanan untuk menerimannya “Kekayaan Hati”, sedangkan dampak dari pelaksanaannya adalah “Kekayaan Harta”.
Pada keterangan akhir merupakan 2 kelompok:pertama untuk orang yang kaya harta tapi miskin hati, kelompok kedua yang bener2 miskin harta.
Mudah2an tidak tambah bingung…
Ikut bingung juga…8)