Sambil menunggu perbaikan kendaaran saya membolak-balik majalah Radar Bogor edisi 22 Des 2007, terpandang suatu kolom yang kurang lebih berjudul “Keragaman Agama Terganggu Kekerasan” oleh Tommy Su (Perth) dari koordinator Masyarakat Pelangi Pencinta Indonesia.
Dinyatakan pada kolom tsb bahwa telah terjadi 108 kasus kekerasan pada masyarakat Nasrani periode 2004-2007 dan juga hal mengenai Ahmadiyah.
Menurut Tommy Su hal ini dilakukan oleh masyarakat yang merasa Hakim paling benar atas nama Tuhan. Tommy Su mengharapkan di tegakannya Piagam Madinah yang berhubungan dengan toleransi dan menampilkan ayat-ayat yang berhubungan dengan toleransi spt “LAKUM DINUKUM WALIADIN” yang artinya insya’ Allah “untuk mu Agamamu dan Untuk ku AgamaKu”.
Sosok muslim seperti Cheng Ho orang kepercayaan masa Dinasti Ming 1403-1420, berkunjung ke Palembang tahun 1406 untuk penyebaran Islam ditulis juga oleh Tommy Su sebagai sosok yang paling taqwa dan lebih mampu bertoleransi dan beradaptasi dengan lingkungan diwilayah Nusantara saat itu ketimbang umat Islam sekarang ini yang lebih memilih kekerasan.
Tulisan ini benar, Islam sangat mengajarkan untuk bertoleransi dan tidak memaksakan kehendak terhadap pihak yang berkeyakinan lain tapi perlu diluruskan bahwa jika Anda mendalami dan membaca sejarah dari dulu justru kesepakatan itu sering kali dikhianati dan tidak satupun yang bisa memungkiri sampai detik ini Dunia Islam diserang terang-terangan secara fisik maupun pemikiran namun dengan bahasa politis diselebungi toleransi, moderenisasi dan pluralisme membalikan fakta menjadi sebaliknya dianggap teroris dan radikal. Memang tidak sepenuhnya setuju cara yang ditempuh sebagian umat Islam melakukan pembelaan diri tapi jelas tidak arif jika anda menuding mereka sebagai pembuat kekerasan. Kesepakatan yang di tuangkan dalam peraturan pemerintah Indonesia tidak luput dari pelanggaran seperti pembangunan tempat ibadah, penyebaran agama dan melakukan peribadatan yang jelas-jelas mengkhianati kesepakatan tsb sementara pihak aparat yang harus menegakan sibuk dengan urusan politiknya maka terpiculah situasi yang di sampaikan oleh Tommy Su. Lihatlah fakta jika Islam minoritas di suatu tempat maka bukan hanya tempat ibadah atau bangungan fisik lainnya yang di rusak bahkan berjuta2 nyawa umat Islam meregang dari fisiknya, masih hangat kasus Bosnia, Ambon, Afghanistan, Irak, Palestina dll…
Berhati-hatilah menyandangkan Cheng Ho sebagai sosok yang paling taqwa, dalam Islam ketaqwaan bukanlah sebuat pangkat yang bisa disandang spt bintang pada bahu seorang Jenderal, ketaqwaan seseorang hanya Allah yang mengetahui dan di rasakan manisnya oleh orang-orang disekitarnya dan tidak ada satu manusiapun mampu menyebut dirinya ataupun menunjuk seseorang paling taqwa dan belum ada pembuktian bahwa Cheng Ho dan anak buahnya bertujuan menyebarkan Islam, mungkinkah kekaisaran Ming bertujuan spt itu? memang ada beberapa ulama dari negeri Tiongkok tapi tidak ada hubungannya dengan kedatangan Cheng Ho secara langsung bertujuan untuk itu. Jika dilihat dari aspek politis malah masuk aka, oleh karena itu saya masukan tema ini lebih ke aspek politis ketimbang agama.
DIarsipkan di bawah: Politik | Ditandai: Ahmadiyah, Islam, Liberal, Sesat