Koreksi Diri

Di negeri seberang dikhabarkan ada seorang Raja tampan namun kerajaan tsb tidak dalam kondisi yang baik dan seorang bapak yang belum pernah melihat Raja tsb bertanya kepada orang2 yang pernah melihat. Salah satunya ia bertanya kepada istrinya, siapakah yang lebih tampan Raja itu atau Aku? maka istrinya menjawab “Lebih tampan kamu”… namun bapak ini masih penasaran maka ia bertanya pada pembantunya, siapakah yang lebih tampan Raja itu atau Aku?… si pembantu menjawab “Bapaklah yang lebih tampan”…hingga suatu hari Bapak tsb kedatangan seorang tamu dan karena masih penasaran maka ia bertanya kepada tamu tsb “siapakah yang lebih tampan Raja itu atau Aku?”… si tamu menjawab “Andalah yang tampan”.

Pada suatu kesempatan pergilah Bapak tsb ke negeri seberang untuk memastikan yang sebenarnya ternyata memang kehidupan rakyat disana cukup miskin, kemudian ia berusaha melihat sejelas2nya Raja negeri ini agar rasa penasarannya terpenuhi dan ternyata si Raja jauh lebih tampan dari dirinya, Bapak tsb termenung mengapa orang2 yang ia tanyai menjawab sebaliknya.

Dalam perenungannya Bapak tsb menyimpulkan mengapa istrinya menjawab spt itu karena “Cinta” padanya, sedangkan pembantunya menjawab spt itu karena “Takut” padanya dan si tamu menjawab spt itu karena “Butuh” pertolongannya.

Lalu ia mendekati Raja tsb untuk menceritakan mengapa ia sampai di situ dan menyampaikan saran untuk membuat sayembara agar “siapa2 yang memberikan kritik untuk membangun negeri ini akan diberikan hadiah” maka banyaklah rakyat disana menyampaikan saran2nya dan Raja menjalankan kerajaan sesuai kritik yang membangun dan tak lama kemudian negeri tsb makmur dan di pimpin oleh Raja yang tampan.

Kisah sekelumit ini memberikan gambaran untuk seorang apalagi seorang pemimpin agar mampu menerima kritikan yang membangun agar dapat mengoreksi diri karena banyak orang2 disekitar kita akan berlaku spt yang dialami oleh si Bapak tadi. Bisa jadi mereka tidak mengeritik karena cinta, takut atau lagi butuh sehingga akan berdampak tidak baik dikemudian hari.

4 Tanggapan

  1. >pemimpin agar mampu menerima kritikan
    kalo boleh saya ‘kritik’ ups…saran, bukan saja mampu tapi mau adalah yg terpenting….

    seandainya saja kita punya Raja spt yg Mas Mydin maksud alangkah indahnya, semoga saja saya juga mas Mydin ataupun ‘raja’ kita demikian…

    mohon maaf jika kurang berkenan ya Mas…
    Moderator:
    Om Abu Rifa minta maaf terus nih, ntar lebaran aja kata orang2…
    Yah yang bener gitulah bersegera saling maaf2an tidak menunggu lebaran.
    Tapi ngomong2 ngak ada yg perlu dimaafkan, silahkan kritik

  2. Ada juga yang tidak bisa menyampaikan kritik secara obyektif karena memang kurang pengetahuan dan ada juga yg gabungan dari cinta, takut dan butuh..
    Dalam kesusasteraan, dikenal istilah kritik sastra yang sering dilombakan. Kritik sastra tsb mengupas habis sebuah karya bukan dari sisi kekurangannya, tapi dari segala aspek sehingga pembaca bisa mengapresiasi karya sastra tsb dgn lebih baik. Tapi umumnya kita mengenal kritik erat dengan ‘kekurangan2′ saja…
    Kalau saya diminta mengkritik, mmmm…. malah susah. Kalao tidak diminta, saya gampang jadi tukang kritik…. :-)
    Moderator:
    Saran saya… lapangkan dada, lepas ucapan dengan ikhlas bahwa ini untuk kebaikan kita semua

  3. bukan hanya pemimpin saja yg harus terima kritikan, kl orang mau maju harus terima kritik & saran dari orang lain, kalau orang lain memberi kritik ke kita berarti orang tersebut masih sayang sama kita & ingin kita maju.

    ibarat orang dagang, barang yg menurut kita bagus tapi gak laku, tapi menurut orang lain bagus itu yg laku… anda pilih yang mana?
    Modetor:
    Pilih yang bagus dua2nya… biar yang jual laku dan barangnya memang bagus dari kedua2nya (win-win lah)

  4. wah saya setuju tuh sama mas/mba onit….rasa kepedulian kita sama mereka itu dengan cara demikian….

    sudah merupakan tabiat saya, kalo saya peduli sama orang saya akan ‘kritik’ dia, baik buruknya saya sampaikan kepadanya, karena saya ingin tetap berteman dengannya.

Tinggalkan Balasan